FISIP Seminar Series Prodi HI, FISIP, UBL “Hoax dan Pengaruhnya Terhadap Integrasi Nasional” (21/11/17)

[:en]Mengambil tema “Hoax dan Pengaruhnya Terhadap Integrasi Nasional”, FISIP Seminar Series kali ini mengundang praktisi dari Lembaga Ketahanan Nasional RI, yaitu Prof. Dr. Sudaryono, SU (Tenaga Pengkaji Bidang Sosial dan Budaya, Lemhannas, RI). Turut mengundang Duta Besar Sunten Z. Manurung, Staf Ahli Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti, dan juga dosen FISIP lainnya. Seminar yang di host oleh Prodi HI ini dilaksanakan pada Selasa, (21/11/17) di Ruang Teater, UBL.

Hoax adalah bagian dari kehidupan manusia. Baik dan buruk adalah bagian kehidupan, itulah manusia. Hoax adalah jati diti kita, tergantung kita yang mengelola kebaikan dan keburukan tersebut. Dalam Islam ada bohong hitam (mencelakakan orang lain) dan bohong putih (yang dilakukan untuk keuntungan manusia). Adakalanya kita harus bohong karena dengan begitu kita dapat selamat. Bohong juga merupakan suatu strategi agar orang lain mendapat manfaat. Bohong macam inilah yang sering manusia lakukan. Apalagi bagi bisnis tertentu seperti politisi/bank/iklan. Jika anda berkata bohong tetapi sadar akan itu maka hal itu normal. Jika tidak sadar maka itu pertanda bohong telah menjadi kebiasaan kita.

Media sekarang ini banyak yang berisi hoax agar laku. Hoax dan hatespeech juga adalah strategi untuk menyerang orang lain yang bertujuan untuk mempengaruhi seseorang untuk melakukan hal tertentu. Hoax bisa dalam bidang bisnis, politik dan agama. Hoax akan menimbulkan iri, dengki dan dapat memutus pertemanan hingan disintegrasi sosial. Hoax tergantung pada keberpihakan dan kepentingan. Jika kita benci pada seseorang daya kritis kita meningkat dan akan mencari cari kesalahan orang. Dengan cara itu keinginan untuk berbuat bohong dan menjelekan terpenuhi.

Prof. Sudaryono menyampaikan mengenai perkembangan dan permasalahan hoax dari perspektif Antropologi. Lemhannas telah melakukan survei mengenai masalah yang paling krusial dalam masyarakat, hasilnya, responden paling banyak memilih tentang isu Persatuan dan Kesatuan yang mana berkaitan dengan Hoax.

“Banyak masyarakat menilai bahwa persatuan dan kesatuan di negeri ini buruk. Presiden Soekarno pernah berbicara bahwa inti dari Pancasila ada pada sila ke-3. karena jika tidak ada kesatuan dan persatuan maka akan bubar, terpecah belah. Lalu saat ditanya problem apa yang merupakan ancaman pada persatuan-kesatuan? Nomer satu adalah isu keagamaan.”

“Agama sekarang ini sering diramu menjadi SARA seperti yang terjadi pada pilkada DKI. Lalu pada pertanyaan selanjutnya yaitu apakah berita hoax di media sosial sudah sampai mengganggu persatuan dan kesatuan? Responden menjawab iya (59%). ini yang melatarbelakangi pemilihan tema pada seminar ini.” ujarnya.

Beliau juga menyatakan ada tidaknya Indonesia tergantung pada sila ke 3 Pancasila, karena Indonesia dibangun dari banyak komponen, begitulah pernyataan Soekarno. Komitmen negara adalah sama sama mencapai tujuan yaitu mencapai kesejahteraan dalam berbagai aspek. Kesejahteraan tersebut tidak akan tercapai jika masyarakat tidak damai, aman dan tentram. Maka dari itu fokus nasional dan tantangan kita sekarang ini adalah persatuan nasional.

Tantangan dalam integrasi nasional

  1. Adanya kelompok yang ingin mengganti Pancasila (Islam Radikal, Komunisme, Separatis)
  2. Kebebasan yang kebablasan
  3. Demokrasi dengan sistem oposisi
  4. Kemiskinan dan kesenjangan sosial

Moderator, yaitu Bapak Rusdianta, M.Si yang juga Ketua Pusat Studi Kebudiluhuran, Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti menyimpulkan bahwa hoax sudah menjadi bagian dari manusia karena manusia ada yang bersifat baik dan buruk. Sudah merupakan kita untuk memilah mana yang baik mana yang buruk. Itulah yang membedakkan manusia beretika dan tidak. Apalagi kita berda di Kampus Berbudi Luhur, etika dan etiket sangat pentik. Perilaku kita harus sesuai dengan norma yang berlaku.[:ID]Mengambil tema “Hoax dan Pengaruhnya Terhadap Integrasi Nasional”, FISIP Seminar Series kali ini mengundang praktisi dari Lembaga Ketahanan Nasional RI, yaitu Prof. Dr. Sudaryono, SU (Tenaga Pengkaji Bidang Sosial dan Budaya, Lemhannas, RI). Turut mengundang Duta Besar Sunten Z. Manurung, Staf Ahli Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti, dan juga dosen FISIP lainnya. Seminar yang di host oleh Prodi HI ini dilaksanakan pada Selasa, (21/11/17) di Ruang Teater, UBL.

Hoax adalah bagian dari kehidupan manusia. Baik dan buruk adalah bagian kehidupan, itulah manusia. Hoax adalah jati diti kita, tergantung kita yang mengelola kebaikan dan keburukan tersebut. Dalam Islam ada bohong hitam (mencelakakan orang lain) dan bohong putih (yang dilakukan untuk keuntungan manusia). Adakalanya kita harus bohong karena dengan begitu kita dapat selamat. Bohong juga merupakan suatu strategi agar orang lain mendapat manfaat. Bohong macam inilah yang sering manusia lakukan. Apalagi bagi bisnis tertentu seperti politisi/bank/iklan. Jika anda berkata bohong tetapi sadar akan itu maka hal itu normal. Jika tidak sadar maka itu pertanda bohong telah menjadi kebiasaan kita.

Media sekarang ini banyak yang berisi hoax agar laku. Hoax dan hatespeech juga adalah strategi untuk menyerang orang lain yang bertujuan untuk mempengaruhi seseorang untuk melakukan hal tertentu. Hoax bisa dalam bidang bisnis, politik dan agama. Hoax akan menimbulkan iri, dengki dan dapat memutus pertemanan hingan disintegrasi sosial. Hoax tergantung pada keberpihakan dan kepentingan. Jika kita benci pada seseorang daya kritis kita meningkat dan akan mencari cari kesalahan orang. Dengan cara itu keinginan untuk berbuat bohong dan menjelekan terpenuhi.

Prof. Sudaryono menyampaikan mengenai perkembangan dan permasalahan hoax dari perspektif Antropologi. Lemhannas telah melakukan survei mengenai masalah yang paling krusial dalam masyarakat, hasilnya, responden paling banyak memilih tentang isu Persatuan dan Kesatuan yang mana berkaitan dengan Hoax.

“Banyak masyarakat menilai bahwa persatuan dan kesatuan di negeri ini buruk. Presiden Soekarno pernah berbicara bahwa inti dari Pancasila ada pada sila ke-3. karena jika tidak ada kesatuan dan persatuan maka akan bubar, terpecah belah. Lalu saat ditanya problem apa yang merupakan ancaman pada persatuan-kesatuan? Nomer satu adalah isu keagamaan.”

“Agama sekarang ini sering diramu menjadi SARA seperti yang terjadi pada pilkada DKI. Lalu pada pertanyaan selanjutnya yaitu apakah berita hoax di media sosial sudah sampai mengganggu persatuan dan kesatuan? Responden menjawab iya (59%). ini yang melatarbelakangi pemilihan tema pada seminar ini.” ujarnya.

Beliau juga menyatakan ada tidaknya Indonesia tergantung pada sila ke 3 Pancasila, karena Indonesia dibangun dari banyak komponen, begitulah pernyataan Soekarno. Komitmen negara adalah sama sama mencapai tujuan yaitu mencapai kesejahteraan dalam berbagai aspek. Kesejahteraan tersebut tidak akan tercapai jika masyarakat tidak damai, aman dan tentram. Maka dari itu fokus nasional dan tantangan kita sekarang ini adalah persatuan nasional.

Tantangan dalam integrasi nasional

  1. Adanya kelompok yang ingin mengganti Pancasila (Islam Radikal, Komunisme, Separatis)
  2. Kebebasan yang kebablasan
  3. Demokrasi dengan sistem oposisi
  4. Kemiskinan dan kesenjangan sosial

Moderator, yaitu Bapak Rusdianta, M.Si yang juga Ketua Pusat Studi Kebudiluhuran, Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti menyimpulkan bahwa hoax sudah menjadi bagian dari manusia karena manusia ada yang bersifat baik dan buruk. Sudah merupakan kita untuk memilah mana yang baik mana yang buruk. Itulah yang membedakkan manusia beretika dan tidak. Apalagi kita berda di Kampus Berbudi Luhur, etika dan etiket sangat pentik. Perilaku kita harus sesuai dengan norma yang berlaku.[:]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 − six =

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.